Selasa, 13 Maret 2012

TENIS MEJA SEKOLAH RAGUNAN

Penulis : Gie Antara
Ini catatan tentang sebuah perjumpaan dengan mereka yang muda belia, yang hampir seluruh kebebasannya terenggut oleh cita-cita. Yang mereka tahu adalah mereka harus menetap diasrama dan terpisah dari keluarga, dan disitulah mereka tumbuh kembang secara sendiri, mencari dewasa sendiri, menemukan jatidiri sendiri, dan mengatasi masalah sendiri. Bertahun-tahun…
Mendapat tugas untuk mendampingi mereka mendatangkan banyak hal yang harus segera dipelajari dari hari ke hari. Waktu menunjukkan pukul 6 pagi, aku harus bangun terlebih dahulu sebelum mereka. Lalu kemudian menuju tempat dimana aku harus mengawasi mereka berlatih fisik di sebuah lapangan bola besar dilengkapi dengan track atletik. Ya, setiap hari mereka harus berlatih fisik ( Lari mengelilingi lapangan ) dan dengan berbagai program dengan waktu minimal 1 jam. Mereka begitu ikhlas menjalani hidup ini, seusia mereka pada umumnya dipagi ini sedang terlelap dirumah menunggu orang tuanya membangunkannya tidur. Tapi mereka dipagi ini sudah banjir peluh dan muka memerah karena terlampau lelah, mereka hanya bisa berteriak dan menangis jika merasa tak sanggup, meskipun tugas tetap harus dijalani.



Selesai berlatih fisik, tugas lain telah menunggu, yaitu sekolah. Mereka yang baru saja berkeringat kini sudah rapi dengan seragam sekolahnya yang wangi. Tak ada alasan untuk letih, mereka harus punya semangat yang sama dengan apa yang telah mereka lakukan dipagi hari tadi. Jam 8 pagi bel sekolah berbunyi menandakan bahwa mereka harus segera berada didalam kelas hingga jam sekolah usai pukul 12 siang.
Aku melihat mata mereka, begitu letihnya.. tapi hidup harus tetap berjalan. Mereka hanya diberi waktu 3 jam untuk beristirahat siang. Karena jam 3 sore telah menunggu mereka untuk berlatih tehnik disebuah HALL yang fasilitasnya sangat tak layak jika harus dibandingkan dengan cita-cita mereka yang begitu indah. Kembali aku harus terlebih dahulu berada ditempat untuk menyambut semangat mereka, menyambut senyum manis mereka, menyambut kejenuhan mereka, juga menyambut rasa letih mereka. Berbagai program dengan waktu 3 jam harus mereka jalani. Ah lagi-lagi keringat mereka mengucur deras, bukan orang tua yang menyeka keringatnya, tapi mereka dengan tangan mereka sendiri yang basah yang menyeka nya. Keringat yang indah, keringat perjuangan.. Seusia mereka pada umumnya disore ini sedang mengunjungi Mall, online di warnet or laptop, jalan-jalan sore cuci mata, atau menonton TV dirumah sambil ngemil. Tapi lagi-lagi mereka disore ini membasahi tubuh dengan keringat selama 3 jam, Bertahun-tahun…

Begitulah mereka menjalani hidup ini hari demi hari kecuali hari minggu. Bertahun-tahun.. Habis sudah masa muda mereka bersama keringat yang akan menjadi butir berharga kelak ketika mereka dihadapkan pada hidup kedua yang sebenarnya. Semangat, mandiri, dan obsesi itu telah tertanam dengan tangan sendiri. Yang pada akhirnya jati diri itu ketemu dengan sendirinya bukan karena dicari tapi hadir sebagai hadiah atau bonus karena mereka telah menjalani proses panjang yang begitu melelahkan dari hidup. Dan ketika mereka merasa telah kehilangan sebagian kasih sayang dari orang tua, maka hidup telah memberikan cinta sejati mereka buat orang tua.

Uang saku yang mereka dapat sebanyak 300 ribu rupiah sebulan menjadi saksi bagaimana mereka mencoba mengatasi masalah demi masalah yang harus dihadapi sendiri. Tubuh harus fit meskipun pikiran bagaikan benang kusut yang hari demi hari mencoba diurai ujungnya dengan tangisan. Bertahun-tahun..

1 Tahun bersama mereka, Mungkin tak cukup bisa membantu meringankan beban hidup mereka meskipun aku telah berupaya menghadirkan suasana yang tak pernah mereka dapatkan sebelumnya. Aku hanya bisa menciptakan kebersamaan dalam berbagai moment, membuat pikiran mereka menjadi lebih renyah dan cair, menjadi tempat mereka bertanya, menjadi sandaran segala isi hati mereka, dan menjadi tameng segala kekurangan mereka. Intinya aku bangga pernah mengenal mereka…

Aku tak lagi bersama mereka, namun semangat mereka menjadi inspirasi besar yang selalu kubawa kamanapun. Bumi yang aku dan mereka pijak memang terus berputar, namun saat-saat bersama mereka telah membeku didalam hati. kenangan bersama mereka telah mengkristal, dan aku akan menyimpan ini. Selamanya...








Artikel Terkait



0 komentar:

Poskan Komentar